Dahsyatnya Sedekah
Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang
bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan
Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala
Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana
gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun
terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian
mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang
lebih kuat dari pada gunung?"
Allah
menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun
bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau
sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para
malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
Allah
yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja
bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya
kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu
yang lebih kuat dari pada api?"
Allah
yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara
sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya
Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?"
Kembali bertanya para malaikta.
Allah
yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin"
(Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan
menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas
karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada
lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang
teramat dahsyat).
Akhirnya
para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah
yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal
anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan
kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya,
orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang
bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang
dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan
untuk diketahui orang lain.
Inilah
gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata
mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam
kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian,
penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu
tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala
apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang
tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.
Karenanya,
tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah
orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh
aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.
Apalagi
kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang
kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung
halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah
kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar
kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya
terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami
luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya
meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut
hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya
kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis
tersedu-sedu penuh syukur.
Mengapa
mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan
keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika
hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam
perjalanan selalu melafazkan zikir.
Sahabat,
tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan)
bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan
dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.
Allah
Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua
hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu
membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin
amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada
terkira.
Segala
amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang
kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam
genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini
datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya
kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh
ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan
balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat
menghadap-Nya kelak.
Dari
pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di
atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah
SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas,
niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.
Inilah
barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah
bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah.
Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah
SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah
melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah
[2] : 261).
Seruan
Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan
empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya
delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan
empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."
"Allah
memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab
Rasulullah.
Kemudian
datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan
melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,"
ujarnya.
Adapun
Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera
menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham
secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.
Mengapa
para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut?
Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah
dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara
hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati
syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan
sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu
na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii
sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun,
pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
Lalu,
apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak
bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh
bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang
Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!
Sahabat,
betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan
hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana
tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti
yang dikemukakan di awal tulisan ini.***
SEDEKAH
Secara harfiyah, sedekah berasal dari kata shadaqa
yang artinya benar. Sedekah adalah pemberian atau perlakukan dari seorang
muslim kepada orang lain secara sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan
jumlahnya sebagai bentuk kebajikan dalam rangka mengharap ridha Allah Swt. Dari
penjelasan seperti ini, sedekah dapat kita pahami sebagai bukti kebenaran iman
dalam berbagai bentuk perbuatan baik, hal ini karena iman harus selalu
dibuktikan dengan amal shaleh atau amal yang baik sehingga setiap kebaikan yang
dilakukan seorang muslim adalah sedekah, Rasulullah Saw bersabda:
كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ
Tiap perbuatan baik adalah sedekah (HR. Baihaki)
Karena sedekah menjadi bukti dari kebenaran iman
seseorang, maka setiap kita yang telah mengaku sebagai muslim harus bersedekah
sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing, bahkan melakukannya harus
sesegera mungkin dalam arti jangan suka ditunda-tunda, hal ini karena bisa jadi
kita tidak sempat lagi bersedekah karena sudah wafat, apalagi soal kapan kita
mati sama sekali tidak ada diantara kita yang mengetahuinya atau kita mau
bersedekah tapi tidak ada orang yang memerlukannya, Rasulullah Saw bersabda:
تَصَدَّقُوْا فَاِنَّهُ يَأْتِى
عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يَمْشِى الرَّجُلُ بِصَدَقَةٍ فَلاَ يَجِدُ مَنْ يَقْبِلُهَا,
يَقُوْلُ الرَّجُلُ: لَوْ جِئْتَ بِاْلأَمْسِ لَقَبِلْتُهَا فَأَمَّا الْيَوْمَ
فَلاَ حَاجَةَ لِي بِهَا
Bersedekahlah kamu sekalian, sesungguhnya akan
datang kepadamu suatu masa dimana seorang lelaki berjalan dengan membawa
sedekah tidak akan menemukan seorangpun yang menerimanya. Lelaki yang
dijumpainya berkata: "andaikata engkau datang kemarin, pasti sedekahmu
akan saya terima, hari ini saya tidak membutuhkannya (HR. Bukhari)
Keharusan untuk segera bersedekah juga ditegaskan oleh Rasulullah Saw
dalam haditsnya yang lain sehingga jangan sampai seseorang baru mau sedekah
ketika ruh sudah sampai di tenggorokan, beliau bersabda:
قَالَ رَجُلٌ, يَارَسُوْلَ اللهِ, اَيُّ
الصَدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ اَنْْ تَصَدَّقَ وَاَنْتَ صَحِيْحٌ شَحِيْحٌ
تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلاَ تُمْهِلْ حَتَّى اِذَا بَلَغَتِ
الْحُلْقُوْمَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا وَ لِفُلاَنٍ كَذَا
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw:
"sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?". Nabi Saw
menjawab: "saat kamu sedekah, hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit
serta saat kamu takut melarat tapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga
ruhmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan
sekian (HR. Bukhari).
Keharusan bersedekah bahkan tetap harus dilakukan atau diberikan
meskipun kepada keluarga yang membenci kita, ini menunjukkan bahwa sedekah yang
kita lakukan adalah karena Allah Swt, bukan karena kepada siapa kita harus
bersedekah, Rasulullah Saw bersabda:
أَفْضَلُ الصَدَقَةِ عَلَى ذِى الرَّحِمِ
الْكَاشِحِ
Sedekah yang paling utama adalah yang diberikan
kepada keluarga dekat yang bersikap memusuhi (HR. Thabrani dan Abu Daud).
KEUTAMAAN SEDEKAH
Sedekah memiliki banyak keutamaan dengan nilai yang besar dalam
pandangan Allah Swt dan Rasul-Nya. Diantaranya, Pertama, dapat
menghindarkan seseorang dari neraka meskipun hanya sedikit yang bisa
disedekahkannya, bukan kikir tapi karena memang ia tidak mampu bersedekah dalam
jumlah yang banyak, bahkan seandainya ia tidak punya apa-apa iapun bisa
melakukannya dengan berbicara yang baik, Rasulullah Saw bersabda:
إِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ
تَمْرَةٍ فَاِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
Jauhilah neraka walaupun hanya dengan (sedekah)
sebiji kurma, kalau kamu tidak menemukan sesuatu, maka dengan omongan
yang baik (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Kedua, memperoleh pahala yang besar, karena pahala suatu
amal yang baik seringkali dilipatgandakan, bahkan bila sedekahnya dalam bentuk
wakaf, maka pahalanya bisa terus mengalir meskipun pelakunya sudah wafat,
Rasulullah Saw bersabda:
اِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ
عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
Apabila anak Adam wafat, putuslah amalnya kecuali
tiga hal, yakni sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shaleh yang
mendo'akannya (HR. Muslim)
Ketiga, dapat mendatangkan rizki sebagai balasan langsung
dari Allah Swt atas sedekah yang dikeluarkannya, ini merupakan suatu keberkahan
baginya, Rasulullah Saw bersabda:
اِسْتَنْزِلُوا الرِّزْقَ بِالصَدَقَةِ
Turunkanlah (datangkanlah) rezkimu (dari Allah)
dengan mengeluarkan sedekah (HR. Baihaki).
Keempat, sedekah menjadi naungan bagi yang melakukannya
pada hari kiamat, sehingga kebaikan yang dilakukan seseorang dalam hidupnya di
dunia ini akan menjadi penolong baginya dalam kehidupan di akhirat kelak,
Rasulullah Saw bersabda:
ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
صَدَقَتُهُ
Naungan bagi seorang mu'min pada hari kiamat adalah
sedekahnya (HR. Ahmad).
Dari pengertian dan penjelasan di atas, kita bisa
memahami bahwa setiap muslim harus bersedekah dan tidak ada alasan baginya
untuk tidak mau bersedekah karena hal itu bisa dilakukan dengan segala bentuk
kebaikan, bukan hanya dilakukan dengan harta.
BERLOMBA DALAM KEBAIKAN.
Setelah kita memahami bahwa kemuliaan manusia
tergantung pada iman dan amal shaleh atau kebaikannya dalam maka semakin banyak
perbuatan baik yang dilakukannya, akan semakin mulia harkat dan martabatnya
dihadapan Allah Swt. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk berloma-lomba
dalam kebaikan sebagaimana firman Allah yang artinya: Dan bagi tiap-tiap
umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 2:148).
Ada banyak kisah tentang bagaimana para sahabat
berlomba-lomba dalam kebaikan. Diantaranya, suatu ketika Rasulullah Saw
mengumpulkan para sahabat di suatu tempat, tidak semua sahabat tahu untuk
maksud apa mereka dikumpulkan. Ternyata Rasulullah Saw menyatakan bahwa kita
harus berjuang dan perjuangan itu memerlukan dana. Maka sahabat yang membawa
uang memberikan uangnya di tengah-tengah majelis, sedangkan yang tidak membawa
uang mengatakan apa yang mau mereka berikan, bahkan sampai ada yang mengatakan
mau memberikan seperempat, setengah, sepertiga, dan sebagainya. Semua
memberikan dan semua menyatakan apa yang mau mereka berikan. Tapi Nabi juga
memperhatikan, ada satu sahabat yang Nabi tahu bahwa hartanya banyak tapi ia
belum memberikan dan belum mengatakan sesuatu. Beliau kemudian bertanya:
"Wahai Abu Bakar, semua sahabat telah memberikan harta atau mengatakan apa
yang mereka mau berikan, mengapa engkau belum?".
Sebenarnya Abu Bakar mau memberikan, tapi ia tidak
mau mengatakan, namun karena Rasulullah Saw bertanya iapun menjawab: "Saya
akan memberikan semua uang yang saya miliki?".
Mendengar hal itu, Rasulullah Saw agak
terkejut padahal yang dituntut tidak sebanyak itu, beliau kemudian
bertanya: "Untuk kamu sekeluarga apa bila semua hendak
disedekahkan?".
Abu Bakar kemudian menjawab: "Untuk kami
cukup Allah dan Rasul-Nya".
Ini menunjukkan sikap mental dari Abu Bakar yang
sangat optimis, apalagi ia seorang pedagang yang sukses sehingga bila hartanya
habis, besok ia masih bisa berdagang dan memperoleh keuntungan, sedangkan modal
kepercayaan orang lain jauh lebih penting daripada modal uang.
Dengan demikian, seharusnya kita selalu termotivasi
untuk memanfaatkan hidup kita yang tersisa ini guna beramal shaleh yang
sebanyak-banyaknya dan bersedekah dalam arti yang luas menjadi keharusan bagi
kita untuk mewujudkannya.
Karena itu, melalui tulisan ini akan kita bahas
secara berseri hal-hal yang bisa kita lakukan dan semua itu termasuk ke dalam
penilaian sedekah.
1. MENGINFAKKAN HARTA
Menginfakkan atau membelanjakan harta, baik untuk kepentingan keluarga
maupun orang lain merupakan salah satu bentuk dari sedekah, bahkan sedekah
dengan menginfakkan harta merupakan pemahaman yang paling populer dikalangan
umat Islam.
Ambillah sekedah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan sedekah
(zakat) itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo'alah untuk
mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالُوْا:
يَارَسُوْلَ اللهِ اَرَاَيْتَ اِنْ لَمْ يَجِدْ؟. قَالَ: يَعْمَلُ ِبيَدِهِ
فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقَ. قَالُوْا: اَرَأَيْتَ اِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ؟.
قَالَ: يُعِيْنُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوْفِ. قَالُوْا: أَرَأَيْتَ اِنْ لَمْ
يَفْعَلْ؟. قَالَ: يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ. قَالُوْا: أَرَأَيْتَ اِنْ لَمْ
يَفْعَلْ؟ قَالَ: يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَاِنَّهَا صَدَقَةٌ
Setiap muslim harus bersedekah. Para sahabat bertanya:
“Wahai Nabi Allah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki harta?”. Beliau
bersabda: “Bekerjalah dengan tangannya sehingga ia bermanfaat bagi dirinya lalu
bersedekah”. Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau ia tidak punya?”. Beliau
bersabda: “Membantu orang yang membutuhkan lagi meminta pertolongan”.
Mereka bertanya lagi: “Kalau tidak bisa?”. Beliau bersabda: “Hendaklah ia
melakukan kebajikan dan menahan diri dari kejahatan, karena keduanya merupakan
sebaik-baik sedekah baginya (HR. Bukhari).
2. BEKERJA.
3. MEMBANTU ORANG LAIN.
PERKATAAN YANG BAIK DAN MEMAAFKAN
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari pada sedekah yang
diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima), Allah Maha
Kaya lagi Maha Penyantun (QS 2:263).
3. MELAKUKAN HUBUNGAN SEKSUAL.
وَفِى يُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ
أَيَأْتِى أَحَدُنََا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ قَالَ
أَرَأَيْْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ
فَكَذَالِكَ اِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا
"Melakukan
hubungan intim (dengan isteri yang dilakukan oleh) salah seorang diantara kamu
merupakan sedekah". Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, apakah
kalau salah seorang diantara kita melampiaskan nafsu syahwatnya hal itu
dihargai dengan pahala?". Rasulullah menjawab: "Bagaimana pendapat
kalian, seandainya seseorang melampiaskan syahwatnya pada hal yang haram?,
apakah dia akan mendapatkan dosa?. Begitu juga jika dia menyalurkan hasrat birahinya
pada hal yang halal, maka dia akan mendapatkan pahala". (HR. Muslim, Abu
Daud dan Ahmad).
4. SENYUM
تَبَسُّمُكََ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Senyummu di muka saudaramu adalah sedekah bagimu (HR. Bukhari)
5. AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR
وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ
صَدَقَةٌ
Menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran adalah sedekah (HR. Bukhari).
6. MEMBIMBING MANUSIA
وَاِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فىِ أَرْضِ الضَّلاَلِ لَكَ صَدَقَةٌ
Bimbinganmu kepada seseorang di bumi kesesatan adalah sedekah bagimu
(HR. Bukhari).
7. MEMBUANG GANGGUAN DI JALAN
وَاِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَ وَالْعَظْمَ عَنِ
الطَّرِيْقِ لَكَ صَدَقَةٌ
Engkau menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu adalah
sedekah bagimu (HR. Bukhari).
8. MENOLONG ORANG LAIN.
9. BERDZIKIR
اِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةًُ
وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةًُ وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةًُ وَكُلِّ
تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةًُ وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيِ عَنْ مُنْكَرٍ
صَدَقَةً
Tiap-tiap ucapan tasbih adalah sedekah, takbir
sedekah, tahmid sedekah, tahlil sedekah, amar ma'ruf sedekah, nahi munkar
sedekah, bersenggama dengan isterimupun sedekah (HR. Muslim)
10. MENANAM POHON
مَامِنْ مُسْلِمٍ يَزْرَعُ زَرْعًا أَوْ يَغْرِسُ غَرْسًا
فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ اِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ اِلاَّ كَانَ لَهُ
صَدَقَةٌ
Tiada seorang muslimpun menanam satu tanaman atau
menanam satu pohon, lalu burung, manusia atau binatang memakannya, melainkan
baginya sedekah (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).
11. MELANGKAH DI JALAN KEBAIKAN.
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SEDEKAH
Sayyid Quthb dalam dzilal: infak bukan memberi tapi menerima, bukan
berkurang tapi bertambah. Infak seharusnya bisa mengangkat derajat manusia dan
tidak mengotorinya, infak yang tidak menodai kehornmatan dan tidak mengotori
perasaan. Infak yang terjadi dan bersumber dari hati yang rela dan suci. Infak
yang hanya bertujuan mencari keridhaan Allah semata-mata.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima),
seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia
tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti
batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan
lebat, lalu menjadilah ia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa
yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir
(QS 2:264).
1. AL MANN (MEMBANGKIT-BANGKITKAN).
M. Quraish Shihab menyatakan bahwa mannan terambil dari kata minnah yang
artinya nikmat. Maksudnya adalah menyebut-nyebut nikmat kepada yang
diberi serta membanggakannya. Kata ini pada mulanya berti memotong atau
mengurangi. Dalam konteks ayat ini, menyebut-nyebut opemberian dinamai demikian
karena ganjarannya menjadi terpotong atau berkurang.
2. AL AZA (MENYAKITI)
Al Adza secara harfiyah artinya gangguan, itu berarti menyebut nikmat
yang diberikan kepada orang yang diberi merupakan sesustu yang sangat menganggu
karena sangat menyakiti perasaan orang yang mnerimannya.
Menyebut-nyebut pemberian atau sedekah akan menyakiti perasaan si
pemberi dan penerima. <enyakitkan si pemberi, karena ia menebarkan di dalam
jiwanya rasa kesombongan dan kecongkakan, ingin melihat saudaranya terhina dan
merendah-rendahkan dihadapannya. Tindakan ini akan memenuhi hatinya dengan
kemunafikan, riya dan jauh dari Allah Swt. Juga menyakitkan perasaan si
penerima, karena dia akan merasa terhina dan direndahkan hingga dapat
menimbulkan dendam dan keinginan untuk balas menyakitinya (Sayyid Quthb)
3. RIYA (MENCARI PUJIAN)