Matahari terus
bersinar dengan teriknya menyinari kehidupan yang semakin rumit untuk
ditelusuri. Jalanan terus memperlihatakan fatamorgana air yang sedang
menggenang di atasnya, hal itu terjadi seperti biasa kala hari sudah mencapai
pertengahan.
Seorang wanita
berkerudung terus menyusuri jalanan dengan membawa map yang berisi sekumpulan
surat lamaran kerja. Terik matahari tak menghentikan kegigihannya untuk mencari
pekerjaan sekedar menyambung hidup.
Berkali-kali
ia memasuki perusahaan dan mengajukan map tersebut memohon agar masih ada
lowongan pekerjaan untuk terus menyambung hidupnya. Serta hidup orang tuanya
yang berada di desa.
“Sudah
beberapa perusahaan aku datangi, tapi tak ada satu pun yang menerimaku sebagai
pekerja,” keluhnya dalam hati sambil mengusap peluhnya yang terus membasahi
mukanya.
Wajahnya yang
putih kelihatan seperti pucat oleh sengatan matahari dan peluhnya yang terus
mengalir. Halte bus itupun dipenuhi oleh anak-anak sekolahan yang baru pulang
dari sekolahnya. Tapi ekspresi dari rasa lelahnya tak dapat ditutupi lagi.
Pandangannya
kemudian tertuju kepada sebuah perusahaan konveksi. Ia tersenyum seakan tahu
bahwa mereka sedang mencari pekerja baru. Langkahnya semakin bersemangat tanpa
menghiraukan teriknya sinar mentari yang sedari tadi terus membelai kulitnya
yang halus.
“Selamat siang
pak, maaf apa di sini sedang membutuhkan seorang pekerja?” tanyanya kepada
seorang resepsionis yang kelihatannya sudah berkepala tiga tersebut.
“Betul, apa
anda sedang mencari pekerjaan,”.
“Ya pak”.
“Apa anda bisa
menjahit,”
“Insya Allah,
saya bisa walaupun tidak begitu menguasainya”.
“Baiklah
sekarang anda bisa segera menuju ke ruang manajer atau bertemu dengan
sekretarisnya yang mengurusi peneriamaan karyawan,” jelasnya sambil menunjuk
lorong menuju ruangan manajer.
“Terima kasih
banyak pak,” dia segera berlalu.
Ternyata bukan
hanya dia seorang yang sedang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup.
Terlihat di sana belasan orang, kebanyakan dari mereka perempuan. Kemudian ia
duduk di samping seorang wanita seusianya di ruang tunggu setelah memberikan
mapnya ke tempat pendaftaran.
“Sudah berapa
lama anda menunggu?” sapanya sambil bertanya kepada wanita tadi.
Wanita tadi
seakan kaget tersadar dari lamunannya mendengar sapaan wanita yang duduk di
sebelahnya. Kemudian dia mengusap keringat yang bertumpahan di keningnya sedari
tadi.
“Oh, anda
menyapa saya,” jawabnya dengan agak tergagap.
“Ya, apakah
anda sudah lama menunggu,” ulangnya dengan nada ramah.
“Begitulah,
tidak mudah mencari pekerjaan sekarang, lowongan kerja yang sedikit tapi orang
yang butuh pekerjaan semakin banyak, akhirnya meningkatlah jumlah pengangguran
di negeri ini,”.
“Kalau boleh
tahu nama anda siapa ya?”
“O, nama saya
Susi Andriani tapi cukup panggil saya Susi atau Andri saja, nama kamu siapa?”
“Nama saya
Nurhayati, tapi saya biasa dipanggil Shifa,”
“Shifa, nama
panggilan yang cantik secantik orangnya?”
“Ah, kamu bisa
saja”.
“Susi
Andriani”.
Tiba-tiba ada
suara yang memanggil nama kenalannya itu dari mikrophone.
“Sus, kamu
dipanggil,” tegur Shifa.
“Do’akan saya
ya, S . . shi,”
“Shifa,”
“Ya, Shifa,”
“Baiklah,
berusahalah dengan sebaik mungkin,”.
Akhirnya susi
segera menuju ke ruang tes dengan langkkah agak cepat. Tapi Shifa kembali
terdiam karena teman bicaranya baru saja dipanggil ke dalam untuk diuji.
Beberapa saat
kemudian susi keluar dari ruangan tersebut dengan wajah pucat.
Setelah lulus
Sekolah Menengah Atas dia memutuskan untuk bekerja. Karena ia yakin ekonomi
keluarga yang tidak mencukupi. Dia masih mempunyai dua orang kakak dan seorang
adik perempuan yang masih duduk di kelas dua SD.
Keputusan dia
tidak salah untuk mencoba mengadu nasibnya di Jakarta. Karena dengan lingkungan
yang panas juga pekerjaan yang ia dapatkan tidak terlalu membuatnya lelah
dengan gaji yang lumayan.
Tapi dia
selalu merasa kurang karena gaji yang diterimanya setiap bulan selalun habis
digunakan untuk biaya hidup yang semakin hari semakin melonjak saja. Parasnya
agak cantik, putih, hampir menyerupai sinar bulan purnama yang menyejukkan
malam bila kita berada di sampingnya.
Umurnya masih
belia, baru lulus SMA. Tapi dia sudah mempunyai pendirian yang kuat dengan arah
tujuan hidupnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar