hima pelacak

Selasa, 04 September 2012

SEPENGGAL CERITA


Matahari terus bersinar dengan teriknya menyinari kehidupan yang semakin rumit untuk ditelusuri. Jalanan terus memperlihatakan fatamorgana air yang sedang menggenang di atasnya, hal itu terjadi seperti biasa kala hari sudah mencapai pertengahan.
Seorang wanita berkerudung terus menyusuri jalanan dengan membawa map yang berisi sekumpulan surat lamaran kerja. Terik matahari tak menghentikan kegigihannya untuk mencari pekerjaan sekedar menyambung hidup.
Berkali-kali ia memasuki perusahaan dan mengajukan map tersebut memohon agar masih ada lowongan pekerjaan untuk terus menyambung hidupnya. Serta hidup orang tuanya yang berada di desa.
“Sudah beberapa perusahaan aku datangi, tapi tak ada satu pun yang menerimaku sebagai pekerja,” keluhnya dalam hati sambil mengusap peluhnya yang terus membasahi mukanya.
Wajahnya yang putih kelihatan seperti pucat oleh sengatan matahari dan peluhnya yang terus mengalir. Halte bus itupun dipenuhi oleh anak-anak sekolahan yang baru pulang dari sekolahnya. Tapi ekspresi dari rasa lelahnya tak dapat ditutupi lagi.
Pandangannya kemudian tertuju kepada sebuah perusahaan konveksi. Ia tersenyum seakan tahu bahwa mereka sedang mencari pekerja baru. Langkahnya semakin bersemangat tanpa menghiraukan teriknya sinar mentari yang sedari tadi terus membelai kulitnya yang halus.
“Selamat siang pak, maaf apa di sini sedang membutuhkan seorang pekerja?” tanyanya kepada seorang resepsionis yang kelihatannya sudah berkepala tiga tersebut.
“Betul, apa anda sedang mencari pekerjaan,”.
“Ya pak”.
“Apa anda bisa menjahit,”
“Insya Allah, saya bisa walaupun tidak begitu menguasainya”.
“Baiklah sekarang anda bisa segera menuju ke ruang manajer atau bertemu dengan sekretarisnya yang mengurusi peneriamaan karyawan,” jelasnya sambil menunjuk lorong menuju ruangan manajer.
“Terima kasih banyak pak,” dia segera berlalu.
Ternyata bukan hanya dia seorang yang sedang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Terlihat di sana belasan orang, kebanyakan dari mereka perempuan. Kemudian ia duduk di samping seorang wanita seusianya di ruang tunggu setelah memberikan mapnya ke tempat pendaftaran.
“Sudah berapa lama anda menunggu?” sapanya sambil bertanya kepada wanita tadi.
Wanita tadi seakan kaget tersadar dari lamunannya mendengar sapaan wanita yang duduk di sebelahnya. Kemudian dia mengusap keringat yang bertumpahan di keningnya sedari tadi.
“Oh, anda menyapa saya,” jawabnya dengan agak tergagap.
“Ya, apakah anda sudah lama menunggu,” ulangnya dengan nada ramah.
“Begitulah, tidak mudah mencari pekerjaan sekarang, lowongan kerja yang sedikit tapi orang yang butuh pekerjaan semakin banyak, akhirnya meningkatlah jumlah pengangguran di negeri ini,”.
“Kalau boleh tahu nama anda siapa ya?”
“O, nama saya Susi Andriani tapi cukup panggil saya Susi atau Andri saja, nama kamu siapa?”
“Nama saya Nurhayati, tapi saya biasa dipanggil Shifa,”
“Shifa, nama panggilan yang cantik secantik orangnya?”
“Ah, kamu bisa saja”.
“Susi Andriani”.
Tiba-tiba ada suara yang memanggil nama kenalannya itu dari mikrophone.
“Sus, kamu dipanggil,” tegur Shifa.
“Do’akan saya ya, S . . shi,”
“Shifa,”
“Ya, Shifa,”
“Baiklah, berusahalah dengan sebaik mungkin,”.
Akhirnya susi segera menuju ke ruang tes dengan langkkah agak cepat. Tapi Shifa kembali terdiam karena teman bicaranya baru saja dipanggil ke dalam untuk diuji.
Beberapa saat kemudian susi keluar dari ruangan tersebut dengan wajah pucat.

Setelah lulus Sekolah Menengah Atas dia memutuskan untuk bekerja. Karena ia yakin ekonomi keluarga yang tidak mencukupi. Dia masih mempunyai dua orang kakak dan seorang adik perempuan yang masih duduk di kelas dua SD.
Keputusan dia tidak salah untuk mencoba mengadu nasibnya di Jakarta. Karena dengan lingkungan yang panas juga pekerjaan yang ia dapatkan tidak terlalu membuatnya lelah dengan gaji yang lumayan.
Tapi dia selalu merasa kurang karena gaji yang diterimanya setiap bulan selalun habis digunakan untuk biaya hidup yang semakin hari semakin melonjak saja. Parasnya agak cantik, putih, hampir menyerupai sinar bulan purnama yang menyejukkan malam bila kita berada di sampingnya.
Umurnya masih belia, baru lulus SMA. Tapi dia sudah mempunyai pendirian yang kuat dengan arah tujuan hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

Mengenai Saya

Foto saya
CAKUL, JATIM
LARE TRENGGALEK

Cari Blog Ini